Ingin Belajar Saham ? Simak Panduan Lengkap Untuk Pemula Ini

Apakah anda ingin belajar saham ? Mungkin banyak dari rekan-rekan investor yang sebelumnya pernah berinvestasi di reksadana, emas atau deposito mulai melirik dan mencoba berinvestasi saham. Tentu saja karena keuntungan atau biasa disebut “cuan” nya saham itu paling besar diantara semua instrumen investasi yang lain.                                     `

Tabel dibawah menunjukan kinerja beberapa saham unggulan atau bluechip selama 10 tahun terakhir termasuk tahun 2020.

return saham

Jika kita menaruh uang kita di awal januari tiap tahun dan mengambilnya pada akhir desember. Kita akan mendapatkan penghasilan dari capital gain rata-rata sebesar 16,6% per tahun untuk saham BBCA , 14,3% untuk saham BBRI, dan 8,3% untuk saham BMRI.

Menariknya penghasilan diatas hanya dari capital gain saja belum dari dividen. Artinya apa ? Meskipun pada tahun 2020 terdapat pandemi Covid yang menjadikan sebagian besar saham perusaaan di dunia turun nilainya. Jika kita menaruh uang kita di saham kita akan tetap mendapatkan return yang lebih tinggi daripada instrumen investasi lainnya.

Perlu rekan rekan investor ketahui sampai sekarang deposito hanya menghasilkan return sebesar 5-7 %, Investasi reksadana pasar uang atau obligasi negara hanya berkisar di 7-8%, emas dan properti hanya berkisar di 7-10%.

Tentu saja membeli saham juga mempunyai resiko, bayangkan seperti anda membeli properti. Jika kebetulan kita membeli properti dengan harga terlalu mahal maka alih-alih akan untung, kita malah menjadi rugi.

Sama halnya membeli saham, jika anda membeli saham perusahaan yang punya kinerja buruk. Maka alih-alih nilai saham naik kecenderunganya nilai saham malah akan semakin turun.

Bagaimana Untung Dari Saham ?

Bagi anda yang baru mulai belajar saham. Pada dasarnya ketika anda membeli saham dari sebuah perusahaan maka anda akan menjadi pemilik modal dari perusahaan tersebut. Sebagai pemilik modal tentu saja anda mendapatkan hak atas dividen/pembagian laba perusahaan tersebut, jumlahnya tergantung dari besar kecilnya modal yang anda setorkan.

Ketika anda membeli saham dari sebuah perusahaan, anda bisa mendapatkan keuntungan dengan 2 cara, yaitu dengan capital gain atau dengan pembagian dividen.

Dividen Saham

Dividen adalah hasil bagi laba bersih yang akan di bagikan pada para pemegang saham selama periode waktu pembagian dividen. Perlu anda pahami bahwa pembagian dividen ini sifatnya tidak wajib karena sangat bergantung dari laba bersih perusahaan dan pada RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham).

dividen bbri

Jika anda melihat tabel diatas yang bisa di cek di halaman resmi BBRI di link berikut. Saham BBRI mendapatkan Net Profit sebesar 34,372 triliun dan Pay Out Ratio Sebesar 60% pada tahun 2019. Artinya 60% dari net profit BBRI atau sebesar 20,62 triliun dibagikan ke pemegang saham.

Jika 20,62 triliun tersebut di bagikan berdasarkan jumlah saham BBRI yang beredar. Maka setiap orang yang mempunyai saham BBRI berhak mendapatkan dividen per share atau dividen tiap lembar saham sebesar 168,11 rupiah.

bbri saham

Jika kita melihat harga saham BBRI hari ini nilainya adalah sebesar 3150 rupiah tiap lembarnya. Sedangkan dividen per share saham BBRI adalah sebesar 168,11 berdasarkan history tahun sebelumnya. Maka di dapatkan Yield Dividen nya sebesar 5,34%.

Yield dividen ini didapatkan dari pembagian antara dividen per share dengan harga saham. Yield Dividen ini sifatnya adalah estimasi saja. Karena besarnya dividen yang akan dibagi sangat bergantung pada laba perusahaan di tahun tersebut dan RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham).

RUPS lah yang nantinya akan menentukan berapa besar Pay Out Ratio pada pembagian dividen di tahun tersebut.

Capital Gain Saham

Bagaimana dengan Capital Gain ? untuk lebih mempermudah anda yang baru belajar saham. Singkatnya capital gain adalah selisih keuntungan yang anda dapatkan jika harga sahamnya mengalami kenaikan.

Misal anda beli saham BBCA pada tanggal 7 Januari 2011 sebesar 6400 rupiah. Lalu anda menjualnya pada 3 januari 2020 dimana harga saham BBCA pada tanggal tersebut sebesar 34.000  rupiah. Maka selisih keuntungan itulah yang disebut Capital Gain.

Bisa juga anda beli saham BBCA pada tanggal 3 januari 2020 sebesar 34.000 rupiah. Lalu saham tersebut pada tanggal 10 Juli 2020 harganya turun menjadi 31.000 rupiah. Itulah yang dinamakan Capital Loss.

Maka alih-alih mendapatkan keuntungan anda malah mengalami kerugian. Namun anda tidak akan mengalami kerugian yang sesungguhnya jika anda tidak menjual saham itu ketika harganya turun dan bersabar untuk hold saham itu hingga harganya naik.

Jika anda sedang memebeli sebuah saham dan harganya turun misal -20%. Maka anda tidak akan mendapatkan kerugian yang sesungguhnya sampai anda menjual sebuah saham tersebut atau biasa disebut dengan Floating Loss.

Demikian pula jika anda membeli sebuah saham dan harganya naik sampai +10%. Anda tidak akan mendapatkan keuntungan/profit hingga anda menjual saham tersebut. Maka itu yang di sebut dengan Floating Gain.

Bagaimana jika anda sudah benar-benar menjual saham tersebut ?. Itulah yang dinamakan Realized Loss atau Realized Profit.

Resiko Saham ?

Setelah anda memahami keuntungan dari membeli saham, anda juga perlu memahami resiko dari membeli saham. Saham sendiri dikategorikan sebagai alat investasi yang high risk. Karena membeli saham sama dengan membeli sebuah perusahaan.

Jika perusahaan yang anda beli mampu memenuhi target pertumbuhan. Sebagai contoh BBCA memenuhi target pertumbuhan perusahaanya sebesar 7-8% pada tahun 2019 kemarin. Maka laba perusahaan tersebut akan semakin bertambah, asetny bertambah dan tentu saja harga sahamnya juga akan bertambah seiring dengan pertumbuhan perusahaan tersebut.

Sebaliknya jika perusahaan yang anda beli mempunyai kinerja yang buruk, terus menerus mengalamai kerugian, mempunyai banyak drama ditambah jarang bagi dividen. Tentu saja kepercayaan investor juga akan menurun dan mengakibatkan harga sahamnya juga menurun.

Resiko terburuk dari membeli saham adalah kinerja perusahaan terus menurun hingga saham perusahaan tersebut mencapai 50 rupiah. Ketika harga saham mencapai 50 rupiah maka harga saham tidak bisa turun lagi dan anda tidak bisa menjual saham anda. Hal ini bisa saja terjadi pada perusahaan yang fundamentalnya buruk dan laporan keuanganya terus menerus merugi.

Ketika harga sahamnya mencapai 50 rupiah maka itu artinya tidak ada lagi investor yang mau membeli saham tersebut. Sehingga semua investor hanya sell sahamnya tanpa ada yang bid.

Kalau anda ingin menjual saham yang sudah mencapai 50 rupiah maka anda harus menunggu orang yang mau bid diangka setidaknya 51 dan kemungkinanya sangat kecil sekali. Karena pasti tidak ada orang yang mau membeli saham yang sudah jelas merugi.

Saya sendiri memilih untuk menghindari saham-saham yang belum memiliki history bagus dan hanya berfokus ke saham-saham bluechip yang sudah jelas secara fundamental. Meskipun kenaikan harga sahamnya tidak setinggi saham-saham gorengan namun keuntungan yang didapat dari saham-saham ini lebih pasti. Jadi kita bisa tetap tidur nyenyak karena tau di masa depan saham-saham yang kita pilih akan tetap berkembang.

Bagaimana Cara Mulai Beli Saham ?

Sebelum anda mulai berinvestasi saham. Anda harus membuka akun sekuritas terlebih dahulu. Apa itu sekuritas ? sederhananya perusahaan sekuritas adalah marketplace tempat kita melakukan jual beli saham.

Jadi setelah kita membuka akun sekuritas, kita sudah bisa melihat, melakukan bid dan sell pada saham yang kita inginkan.

Untuk membuka sekuritas sendiri mudah sekali anda bisa mengunjungi : https://www.idx.co.id/investor/buka-rekening-online dan memilih perusahaan sekuritas yang anda inginkan.

perusahaan sekuritas

Menurut saya sampai sekarang sekuritas yang paling banyak dipakai oleh investor dan pemula yang baru belajar saham adalah Mirae Aset dan Mandiri Sekuritas. Untuk lebih mempermudah dalam memilih sekuritas yang paling cocok dengan karakter anda. Anda dapat melihat tabel di bawah

Dari tabel diatas anda dapat melihat bahwa Mirae Aset mempunyai Fee Beli dan Jual paling murah daripada yang lain. Namun setoran awal yang direkomendasikan adalah 10 juta.

Jika anda adalah investor pemula tidak perlu kawatir terhadap angka setoran awal tersebut. Menurut pengalaman saya meskipun anda hanya deposit 1 juta rupiah sebagai setoran awal di rekening sekuritas. Anda tetap dapat mulai beli dan jual saham yang anda inginkan.

Saya sendiri saat ini menggunakan Mandiri Sekuritas sebagai tempat jual/beli saham. Karena menunya yang sederhana, pembuatan akun yang cepat dan mandiri sekuritas juga memberikan analis trading harian di saham-saham unggulan setiap hari.

Saat anda membuka sebuah akun sekuritas. Pihak sekuritas akan membukakan rekening baru untuk anda kusus untuk transaksi sekuritas.

Misal anda ingin membuat akun Mandiri Sekuritas, nantinya anda akan di buatkan akun rekening Mandiri baru kusus untuk jual beli saham dan ketika anda ingin melakukan pembelian saham, Anda dapat mendepositkan uang anda di rekening tersebut.

Yang perlu anda ingat adalah anda tidak boleh memberikan Password dan Pin aplikasi sekuritas anda kepada siapapun. Hanya balas email dari akun resmi dan email resmi dari Perusahaan Sekuritas yang menghubungi anda.

Memahami Jadwal Dividen Suatu Perusahaan

Tahap selanjutnya untuk belajar saham adalah memahami jadwal pembagian dividen. Bagi anda yang mengincar keuntungan dari dividen maka anda harus memahami tanggal Cum, Ex dan Payment date dari perusahaan tersebut.

Jika anda membeli saham dari sekuritas maka anda membeli dari pasar reguler, jadi anda tidak perlu bingung antara pasar negosiasi dan tunai cukup fokus pada pasar reguler. Untuk lebih jelasnya anda dapat melihat jadwal pembagian dividen BBCA di tanggal berikut :

  • Cum Date : 20 April 2020
  • Ex Date : 21 April 2020
  • Recording date : 22 April 2020
  • Payment Date : 11 Mei 2020

Cum date adalah tanggal terakhir bagi investor untuk membeli saham jika ingin mendapatkan dividen.  Apabila anda membeli saham sebelum tanggal cum date anda masih dicatat sebagai investor yang akan mendapatkan dividen.

Ex date adalah hari setelah cum date. Jika anda membeli saham pada hari ex date anda tidak akan mendapatkan pembagian dividen dari perusahaan tersebut meskipun anda membeli saham sebanyak apapun.

Recording date adalah tanggaal pencatatan investor untuk mendapatkan dividen. Sedangkan payment date adalah tanggal pembayaran dividen kepada seluruh pemegang saham yang membeli saham sebelum cum date.

Penurunan Saham Maksimal dalam Sehari

Semua saham punya batas kenaikan dan penurunanya dalam satu hari. Pada hari normal harga saham hanya bisa mengalami kenaikan maksimam 25% dan penurunan maksimal 25%.

Jadi ketika harga saham naik sampai 25% dalam satu hari maka otomatis saham itu tidak dapat diperjual belikan lagi di hari itu dan hal tersebut dinamakan ARA (Auto Rejection Atas).

Sebaliknya jika penurunan saham tersebut sampai 25% dalam sehari, maka saham yang turun di hari tersebut dinamakan ARB (Auro Rejection Bawah)

Namun pada kondisi pandemi covid ini batas ARB hanya 6% sehari. Jadi setelah terjadi penurunan hingga 6% maka bid dan sell nya akan tertutup dan kita tidak bisa melakukan jual beli saham itu lagi.

Belajar Saham dengan Ilmu Fundamental

Salah satu ilmu yang wajib kamu pelajari saaat sedang belajar saham adalah ilmu fundamental. Jika anda berniat menjadi seorang investor maka anda akan sering menggunakan ilmu ini ketika ingin memutuskan saham mana yang akan anda beli.

Bagi seorang investor membeli saham adalah membeli sebuah perusahaan. Oleh karena itu penting bagi kita untuk memahami aset, laba bersih, ekuitas, hutang dan laporan laba rugi perusahaan tersebut.

Perkembangan dari aset dan laba perusahaan tersebut juga menjadi acuan paling mendasar untuk menentukan apakah harga saham terlalu tinggi atau terlalu rendah.

Bagi investor yang punya tujuan untuk membeli saham untuk di hold jangka panjang (5 tahun). Pilihan pembelian saham akan sangat bedasarkan pada fundamental dari perusahaan tersebut. Jadi alih-alih melihat pergerakan naik turun saham dalam jangka pendek. Investor akan berfokus pada laporan laba rugi perusahaan tersebut.

Jadi selama perusahaan tersebut tidak mengalami masalah selalu konsisten mengalami kenaikan laba bersih. Serta tidak ada kasus pada direksi atau perusahaan tersebut maka investor akan tetap mempertahankan saham perusahaan itu.

Namun apabila terjadi perubahan drastis pada perusahaan tersebut.Misalnya perusahaan itu mengalami kerugian selama 2 kuartal berturut-turut atau ada kasus besar pada manajemenya. Maka investor baru akan melakukan cut loss atau jual rugi.

Tabel diatas menunjukan EPS (Earning Per Share) dari saham BBCA. EPS sendiri merupakan salah satu indikator penting ketika kita ingin melihat fundamental dari menilai valuasi saham yang kita beli. Semakin tinggi nilai EPS maka fundamental perusahaan tersebut semakin baik.

Dari tahun 2015 sampai 2019 EPS saham BBCA terus mengalami kenaikan. Sehingga menyebabakan investor semakin tertarik di perusahaan tersebut dan menyebabkan harga sahamnya juga naik.

Sebenarnya ada 3 indikator yang sering digunakan investor untuk menilai harga valuasi sebuah saham. Indikator untuk menilai apakah saham tersebut murah atau tidak yaitu PER, PBV, dan ROE.

Price To Earning Ratio (PER)

Salah satu indikator yang perlu anda pelajari saat belajar saham adalah PER. Rasio ini menggambarkan seberapa besar valuasi harga saham yang dinilai investor dari EPS saham tersebut. PER sendiri di dapat dengan membagi harga saham dengan laba bersih perusahaan tersebut.

Jadi yang perlu di lakukan untuk melihat apakah sebuah perusahaan sahamnya murah (undervalue) atau mahal (overvalue). Anda perlu melihat PER dari perusahaan yang ingin anda beli sahamnya dan membandingkanya dengan perusahaan di industri yang sama dan mempunyai laba bersih yang kurang lebih sama.

Hasil akhirnya di dapatkan PER masing-masing perusahaan dan perusahaan. Perusahaan dengan nilai PER yang kecil menandakan bahwa perusahaan tersebut nilai sahamnya dipasaran murah atau undervalue.

belajar saham

Bagi anda yang baru belajar saham anda bisa melihat tabel diatas. Tabel tersebut menunjukan PER atau P/E Ratio dari saham-saham perbankan pada tanggal 11 oktober 2020. Meskipun mengantongi laba bersih yang kurang lebih sama pada tahun 2019 namun saham BBRI dan BMRI masih jauh lebih murah dibanding saham BBCA.

Jika dilihat dari indikator P/E pada tabel diatas saham BBCA sebenarnya sudah over value. Karena dibandingkan dengan saham BBRI dan BMRI yang P/E Rationya di angka belasan. P/E Ratio dari saham BBCA sudah mencapai puluhan, hampir 2 kali lipat dari P/E saham di industrinya yang mempunyai laba bersih kurang lebih sama.

Namun perlu diperhatikan bahwa indikator P/E ini bersifat relatif artinya anda tidak boleh mengandalkan indikator ini saja. Saham yang mempunyai P/E ratio tinggi belum tentu saham itu adalah saham yang jelek dan tidak baik untuk di investasikan. Anda perlu memahami indikator saham yang lain sehingga memperkuat analisa saham anda.

Price To Book Value (PBV)

Book Value atau Nilai Buku yang menunjukan berapa nilai sebuah perusahaan jika perusahaan itu dilikuidasi. Nilai PBV ini dapat anda lihat di laporan neraca keuangan perusahaan tersebut yang di dapatkan dengan rumus “Nilai Buku =  Aktiva – Pasiva (Liabilitas)”.

Singkatnya PBV menunjukan rasio antara harga saham dengan Nilai buku. PBV sendiri dapat menggambarkan berapa nilai yang akan didapatkan pemegang saham jika perusahaan tersebut membayar semua kewajiban/hutangnya.

Untuk pengetahuan dasar semakin rendah Rasio PBV makan itu mengindikasikan bahwa perusahaan itu semakin baik. Semakin tinggi PBV nya maka perusahaan itu semakin buruk.

Namun perusahaan dengan Rasio PBV kurang dari 1 bukan berarti perusahaan itu sahamnya murah. Sedangkan perusahan dengan PBV lebih dari 1 bukan berarti saham perusahaan tersebut mahal. Cara menilai apakah Rasio PBV itu bagus atau tidak adalah dengan membandingkan PBV perusahaan tersebut dengan perusahaan di industri yang sama dan mempunyai laba bersih yang cenderung sama.

belajar saham

Contoh pada 11 Oktober 2020 harga saham BBNI adalah 4640 dan ini merupakan harga saham yang sama ketika tahun 2014. Di mana jumlah aset BBNI pada tahun tersebut adalah 416 triliun sedangkan pada tahun 2020 jumlah aset perusahaan tersebut sudah 2 kali lipatnya 800 triliun.

Nilai sahamnya yang turun adalah dampak dari corona dimana saham BBNI cenderung masih sideways pada bulan oktober dibandingkan dengan saham-saham perbankan lain yang sudah mulai naik kembali saamnya. Dari indikator PER dan PBV saham BBNI adalah salah satu saham yang pada bulan oktober masih sangat murah.

Tentu saja selalu ada anomali dalam ilmu fundamental saham. Contohnya adalah saham BBCA meskipun saham ini mempunyai PER yang tinggi dan PBV yang tinggi diantara saham di industrinya. Pada kenyataanya saham ini terus menerus mengalami uptrend.

Bahkan BBCA termasuk salah satu saham perbankan yang bangkit paling cepat disaat pandemi corona disusul oleh BMRI, BBRI dan BBNI. Kenapa ini bisa terjadi ? simak penjelasan saya tentang ROE terlebih dahulu.

Return Of Equity (ROE)

Rekan-rekan yang sedang belajar saham dan sudah membaca penjelasan saya sebelumnya mengenai saham BBCA. Sahal tesebut dapat bangkit paling cepat saat pandemi corona dan selalu uptrend meskipun nilai PBV dan PER nya sudah diatas rata-rata perusahaan perbankan yang lain. Mungkin anda bertanya-tanya kenapa hal tersebut dapat terjadi.

belajar saham

Menurut saya salah satu hal yang membuat ini terjadi adalah karena ROE dari BBCA paling tinggi diantara saham perbankan yang lain. Jadi meskipun indikator PBV dan PER saham BBCA sudah menunjukan bahwa BBCA adalah saham yang mahal (overvalue) namun karena ROE perusahaan ini paling tinggi diantara yang lain. Bahkan sempat sampai ke ROE 28%  pada tahun 2013. Minat market pada saham BBCA menjadi sangat positif dan menyebabkan kenaikan saham BBCA.

ROE sendiri adalah sebuah indikator yang menunjukan seberapa besar kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba bersih berdasarkan modal sendiri. Sederhananya ROE perusahaan yang baik besarnya nya lebih besar daripada deposito atau reksadana pasar uang.

Logikanya kalau ROE perusahaan tidak lebih tinggi daripada deposito ya lebih baik uang perusahaan ditaruh ke deposito saja. Sudah jelas profitnya dan tidak usah capek-capek bisnis.

Oleh karena itu ROE ini bisa menjadi sangat penting. Contoh lain adalah saham UNVR meskipun saat ini indikator PBV nya di angka 34. Namun karena ROE perusahaan ini mencapai 100% maka market masih menganggap saham ini adalah saham yang bagus. Bahkan harga saham UNVR saat ini sudah kembali naik ke harga normalnya ketika sebelum pandemi corona. Meskipun saham-saham yang berfundamental bagus lainnya belum kembali naik.

Kesimpulan

Saham adalah salah satu instrumen investasi yang menghasilkan keuntungan yang tinggi namun juga mempunyai resiko yang tinggi juga. Oleh karena itu jangan mengharapkan return yang tinggi atau instan dan belilah saham yang mempunyai fundamental bagus atau saham bluechip yang sudah mempunyai history yang bagus dan laporan keuangan yang selalu profit.

Hindarilah saham-saham berfundamental buruk atau saham gorengan yang harganya naik turun tidak jelas. Konsep menabung saham adalah menyisihkan uang anda setiap bulan untuk membeli saham berfundamental bagus yang nilainya selalu naik dalam jangka panjang.

  • Leave Comments